
Khartoum – Konflik berkepanjangan antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) yang bermula pada April 2023 terus menimbulkan korban di berbagai wilayah Sudan, termasuk Khartoum, Omdurman, Darfur, hingga Kordofan. Dalam perspektif Nahdlatul Ulama (NU), tragedi yang terjadi bukan semata persoalan politik internal Sudan, melainkan krisis kemanusiaan global yang menuntut solidaritas, kepedulian, dan seruan damai dari seluruh umat Islam.
NU Melihat Konflik Sudan Sebagai Darurat Kemanusiaan. Lembaga-lembaga di lingkungan NU, termasuk PBNU, Lembaga Bahtsul Masail, dan para kiai sepuh, menegaskan bahwa perang yang menimpa rakyat Sudan merupakan musibah yang harus dipandang melalui kacamata naṣr al-mustad‘afin—membela pihak yang lemah dan tidak berdaya.
Jutaan warga sipil Sudan kini hidup tanpa kepastian. Di Darfur Barat, kota Geneina mengalami kerusakan parah dan gelombang pengungsian besar. Di Khartoum dan Bahri, warga bertahan tanpa listrik dan akses air bersih. Sementara itu Port Sudan, yang relatif aman, menjadi tempat evakuasi bagi ribuan keluarga yang melarikan diri.
NU memandang kondisi ini sebagai darurat insaniyah (darurat kemanusiaan) yang harus ditanggapi dengan penuh empati dan solidaritas.
Sikap NU: Mengutamakan Perdamaian dan Melindungi Warga Sipil. Mengacu pada prinsip fikih, NU menegaskan bahwa: perang antar kelompok Muslim wajib dihentikan, perlindungan terhadap warga sipil merupakan kewajiban syar‘i, dan islâh (perdamaian) lebih utama daripada kekuasaan.
Seruan ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Hujurât ayat 9 tentang kewajiban mendamaikan dua kelompok yang bertikai. Para ulama NU menekankan bahwa konflik Sudan tidak akan selesai jika hanya diselesaikan melalui kekuatan senjata. Dialog, negosiasi, dan rekonsiliasi adalah jalan terbaik, sebagaimana tradisi islah yang lama dijaga dalam keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah.
Ajakan Warga NU: Mendoakan, Menguatkan Solidaritas, dan Mendukung KemanusiaanPBNU mengajak seluruh Nahdliyin untuk:
1. Mendoakan keselamatan rakyat Sudan di setiap majelis, tahlilan, dan kegiatan keagamaan.
2. Menjadi bagian dari gerakan solidaritas internasional, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga sipil seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan perlindungan anak-anak.
3. Menjaga lisan dan media sosial dari provokasi, hoaks, atau narasi kebencian yang dapat memperkeruh konflik.
NU juga mendorong lembaga kemanusiaan, termasuk LPBINU, untuk memperkuat koordinasi dengan organisasi global demi penyaluran bantuan ke wilayah terdampak seperti Darfur Selatan, Zalingei, dan kamp pengungsi di perbatasan Sudan–Chad.
Konflik Masih Berlanjut, Seruan Damai Harus Diperkuat. Hingga awal 2025, belum ada tanda bahwa SAF dan RSF bersedia mencapai kesepakatan damai permanen. Namun, NU menekankan bahwa harapan tidak boleh padam. Tradisi NU selalu menempatkan nilai rahmah (kasih sayang) dan hikmah (kebijaksanaan) sebagai pondasi menghadapi tragedi kemanusiaan.“Setiap tumpah darah manusia adalah duka bagi seluruh umat,” demikian garis besar pernyataan moral ulama-ulama NU.
Editor: Fatma Russy [Media HM Al inaaroh 2]




